Kesetaraan
Gender dalam Kaca Mata Remaja dan Pengaruhnya dalam Sosial-Budaya
Di
Indonesia
Ketika mendengar kata
gender, mungkin akan terbersit dalam pemikiran kita dengan kata penyetaraan
gender yang saat ini sedang menjadi topik hangat dalam perbincangan masyarakat.
Untuk memaknai kata gender, World Health Organization (WHO) telah memberi
batasan gender sebagai "seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut
yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial
dalam suatu masyarakat”. Konsep dari gender ini berbeda dengan konsep biologis
mengenai jenis kelamin laki-laki atau perempuan yang lebih ilmiah, melainkan
pengertian gender dalam lingkup sosiologi yang lebih mengacu pada sekumpulan
ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin seseorang dan diarahkan pada
peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat.
Sedangkan dalam
pengertiannya kesetaraan gender sendiri merupakan akibat dari kebudayaan global
yang tengah mendesak semua aspek kepentingan manusia diseluruh penjuru dunia
termasuk Indonesia. Hal ini dikarenakan pada era globalisasi sekarang ini,
perkembangan peradaban di dunia Barat dan Timur yang semula tumbuh dalam
lingkup budaya dan ideologi patriarkis telah terkikis dengan meninggalkan
dampak negatif diberbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat serta telah
menciptakan ketimpangan gender yang memunculkan banyak konflik dan perbedaan
selama ini. Sehingga menuntut manusia untuk dapat berperan dan berpengaruh
aktif dalam berbagai lingkup kehidupan bermasyarakat.
Seiring dengan
berkembangnya teknologi informasi yang semakin modern dan meningkatnya
pertumbuhan penduduk setiap tahunnya yang mayoritas adalah kaum perempuan,
membuka kesempatan lebar bagi setiap warga negara untuk memperoleh kesempatan yang
sama dalam bidang apapun. Sebagai contoh dengan adanya pembaharuan hukum,
pembangunan ekonomi, dan pemberdayaan perempuan dalam kualitas sumber daya
manusia (SDM) serta pembangunan dibidang politik telah terealisasikan dengan terpilihnya seorang perempuan sebagai
Presiden yang juga selaku Kepala Negara yang mengatur roda pemerintahan dan
memegang kepemimpinan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Di dalam proses
interaksi sosial,
masyarakat akan beranggapan pentingnya kesetaraan gender di setiap negara berkembang ataupun negara maju, yaitu untuk mendorong hak-hak kaum perempuan yang dimana setiap perempuan pada jaman sekarang banyak sekali yang ingin di sama ratakan kepentingannya dengan pria. Karena dewasa ini sudah banyak perempuan-perempuan yang berfikir bahwa pentingnya peranan perempuan di setiap kalangan, kelompok, atau individu, yaitu untuk ikut serta dalam menjalankan suatu pemerintahan, yang sekarang ini banyak anggapan bahwa perempuan masih belum layak menjadi pemimpin.
masyarakat akan beranggapan pentingnya kesetaraan gender di setiap negara berkembang ataupun negara maju, yaitu untuk mendorong hak-hak kaum perempuan yang dimana setiap perempuan pada jaman sekarang banyak sekali yang ingin di sama ratakan kepentingannya dengan pria. Karena dewasa ini sudah banyak perempuan-perempuan yang berfikir bahwa pentingnya peranan perempuan di setiap kalangan, kelompok, atau individu, yaitu untuk ikut serta dalam menjalankan suatu pemerintahan, yang sekarang ini banyak anggapan bahwa perempuan masih belum layak menjadi pemimpin.
Tingginya jumlah penduduk
Indonesia menyebabkan peningkatan kualitas kerja untuk manusia produktif belum
merata, pun masih banyak remaja yang belum mendapatkan fasilitas pendidikan
yang seharusnya diberikan oleh negara. Hal ini merupakan pengaruh dari konsep
kesetaraan gender yang sedang terjadi yang juga sangat erat kaitannya dengan
adat dan kebudayaan. Karena pada beberapa daerah pedalaman di Indonesia, adat
istiadat merupakan pedoman kehidupan yang masih dipegang teguh oleh masyarakat
setempat. Pada beberapa daerah, masih banyak kaum perempuan di Indonesia yang
lebih mementingkan kehidupannya sendiri ketimbang mementingkan kesetaraan
gender. Di sini maksud dari mementingkan kehidupanya sendiri yaitu sebagian
besar kaum perempuan yang ada di negara berkembang terutama di setiap desa-desanya,
masih belum paham apa itu kesetaraan gender, yang mereka ketahui hanyalah
bagaimana mereka bisa bertahan hidup di negara berkembang ini tanpa
mementingkan suatu kerugian bagi mereka.
Secara budaya banyak
sekali anggapan-anggapan bahwa perempuan kurang layak untuk mempunyai suatu
pekerjaan yang levelnya di atas laki-laki, bukan karena melihat bahwa perempuan
itu lemah, namun banyak perempuan di desa-desa yang lebih mengutamakan mengurus
rumah tangga dan pekerjaan yang ringan, sedang pekerjaan yang berat dilimpahkan
kepada laki-laki, sehingga sudah menjadi hal yang biasa dan sudah menjadi
tradisi kebudayaan. Jadi sangat sulit bagi negara-negara berkembang untuk
meningkatkan kesetaraan gender di negaranya sendiri.
Jika dilihat dari norma-norma sosial dan budaya yang masih di
bilang merupakan rintangan yang paling sulit disingkirkan, seiring naiknya kepemimpinan
kaum perempuan di negara berkembang justru di perlukanya suatu upaya yang tegas
untuk mendidik suatu masyarakat untuk mengubah penilaian dan persepsi mereka
mengenai perempuan, serta memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk
bersuara yang lebih menonjolkan sifat kepemimpinan, maupun di dalam lingkungan
rumah ataupun di depan umum sekalipun. Yang tujuannya untuk bisa memperlancar
transisi menuju peran kepemimpinan tersebut.
Bisa dikatakan bahwa pendidikan hanyalah sebagian dari solusi
yang di kedepankan. Jalan alternatif yang bisa mempercepat keterwakilan
perempuan dalam kepemimpinannya, tapi yang diperlukan di sini adalah waktu
untuk mengubah norma-norma sosial yang sudah ada dari dulu. Namun, dengan
seiring berjalannya waktu, maka masyarakat menjadi sudah terbiasa akan
kepemimpinan perempuan pada tingkat lokal dan gunanya untuk mengurangi
penilaian yang negatif dari masyarakat terhadap perempuan, sehingga perempuan
bisa meningkatkan aspirasi serta pencapaian perempuan-perempuan muda lainya di
bidang pendidikan seperti yang terjadi di negara-negara berkembang lainya.
Seperti dikutip dari Laporan
Pembangunan Dunia 2012: Kesetaraan Gender Dan Pembangunan mengatakan
Indonesia – seperti kebanyakan Negara Berkembang lainnya – telah mencapai
kemajuan penting dalam peningkatan kesehatan untuk para perempuan dan anak-anak
perempuan, dan juga telah mampu meningkatkan akses terhadap keuangan dan
keadilan. Meski demikian, masih ada area yang dapat ditingkatkan. Dalam hal
aktifitas ekonomi, misalnya, usaha-usaha yang dimiliki oleh perempuan di
pedesaan Indonesia masih kurang menguntungkan dibanding dengan yang dimiliki
oleh para laki-laki. Pendidikan, kepemilikan aset, akses ke kesempatan
ekonomi dan kesempatan memperoleh pendapatan adalah hal-hal kunci untuk
meningkatkan kesejahteraan para perempuan dan keluarga mereka.
Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa konsep kesetaraan gender yang ada di Indonesia sebenarnya
memiliki pengaruh yang besar terhadap peningkatan kualitas dan pembangunan
nasional terlebih dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan, namun ada
beberapa faktor yang menghambat proses dari kebijakan tersebut. Diantara
masalahnya adalah adat istiadat dan kebudayaan yang masih kental dimasyarakat.
Namun karena peran aktif dari masyarakat yang mulai sadar akan manfaat dari
kesetaraan gender, dari tahun ke tahun, kebijakan kesetaraan gender di
Indonesia terus meningkat. Sebagai seorang pemuda generasi penerus bangsa patutlah
kita menyikapi secara positif dari kebijakan yang sedang dalam proses realisasi
ini, agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan kemajuan bangsa.
