Selamat malam pembaca, pernah berkunjung ke Blitar nggak? pasti kalo jawab pernah, objek wisata yang dikunjungi adalah Makam Bung Karno, iyakan? Nah, buat referensi destinasi wisata baru kalau sedang berkunjung ke Blitar, pembaca bisa ikut berpartisipasi dalam ritual budaya yang diadakan setiap tanggal satu Muharram, atau pada satu suro dalam Kalender Jawa, yaitu ritual pencucian gong Mbah Pradah, di Lodoyo Blitar.Selain berwisata, kita juga akan semakin mengenal berbagai macam kebudayaan yang ada disekitar kita, tentunya bakalan Indonesia banget..!!!
Berikut adalah sejarah singkat dari Gong Mbah Pradah,
Apakah
sebenarnya Kyai Pradah itu? Konon pada saat penobatan tahta Kerajaan Kartasura Sri Susuhunan Pakubuwono I, beliau mempunyai saudara dari selir ayahnya bernama Pangeran Prabu. Ketika Sri Susuhunan Pabubuwono I dinobatkan sebagai raja, Pangeran Prabu merasa sakit hati dan ia berniat membunuh Sri Susuhunan Pabubuwono I, namun upayanya ketahuan, maka
sebagai hukuman atas kesalahannya itu Pangeran Prabu ditugasi menebang kayu di hutan Lodoyo. Ketika itu hutan Lodoyo
dikenal sangat wingit (angker) dan banyak dihuni binatang buas. Karena Pangeran Prabu merasa salah, untuk menebus kesalahannya beliau berangkat ke hutan Lodoyo
dan diikuti istrinya Putri Wandansari dan abdinya Ki Amat Tariman dengan membawa pusaka bendhe yang diberi nama Kyai Bicak, yang akan digunakan sebagai tumbal
‘penolak bala’ di hutan Lodoyo.
Kemegahan
istana ditinggalkan mereka keluar masuk hutan, naik turun gunung, menyusuri lembah ngarai hingga akhirnya tiba di kawasan Lodoyo
yang masih merupakan hutan belantara yang sangat angker. Pengembaraan jauh itu mereka lakukan dengan penuh ketabahan, karena mereka percaya tidak akan menghadapi marabahaya selama mereka membawa pusaka bendhe Kyai Bicak. Sementara untuk menenangkan hati, Pangeran Prabu melakukan nepi (menyendiri) di hutan Lodoyo
dan bendhe Kyai Bicak dan abdi setianya Ki Amat Tariman dititipkan kepada Nyi rondho Patrasuta, beliau meninggalkan pesan bahwa setiap tanggal 12
Mulud dan tanggal 1 Sawal supaya bendhe tersebut disucikan dengan cara disirami atau dijamasi air bunga setaman dan air bekas jamasan tersebut bisa untuk mengobati orang sakit dan sebagai sarana ketentraman hidup.
Pada
suatu ketika Ki Amat Tariman sangat rindu kepada Pangeran Prabu ia kemudian berjalan-jalan di hutan, tetapi ia tersesat dan kebingungan, karena bingungnya Ki Amat Tariman memukul bendhe Kyai Bicak 7 kali, suara Kyai Bicak menimbulkan keajaiban ketika itu yang datang
bukan rombongan Pangeran Prabu tetapi harimau besar-besar dan anehnya mereka tidak menyerang atau mengganggu tetapi justru menjaga keberadaan Ki Amat Tariman, dan sejak itu bendhe Kyai Bicak diberi nama Gong Kyai Pradah yang artinya harimau.
Upacara adat Siraman Pusaka Gong
Kyai Pradah merupakan salah satu bentuk budaya lokal di Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Tradisi ini sampai sekarang masih tetap diselenggarakan oleh masyarakat pendukungnya, yaitu setahun dua kali di Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten
Blitar. Hal ini karena masyarakat pendukungnya percaya bahwa tradisi ini masih bermanfaat dalam kehidupannya.
Pelaksanaan
upacara adat siraman pusaka tersebut merupakan bentuk pemeliharaan secara tradisional benda peninggalan nenek moyang yang berupa Gong bernama Kyai Pradah, sehingga dengan pemeliharaan ini pusaka Gong
Kyai Pradah akan tetap lestari.
Tradisi Siraman Pusaka Gong
Kyai Pradah dapat menambah rasa persatuan dan kegotongroyongan antar warga Lodoyo.
Selain itu pelaksanaan tradisi tersebut juga dapat menambah pendapatan masyarakat setempat. Kegiatan ini menjadi salah satu aset wisata
budaya di Lodoyo khususnya dan
di Kabupaten Blitar pada umumnya.
Upacara adat siraman pusaka Gong
Kyai Pradah banyak mengandung nilai-nilai budaya luhur warisan nenek moyang, oleh karena itu sebaiknya tradisi tersebut tetap dilestarikan dan diinternalisasikan kepada generasi muda supaya mereka tidak lepas dari akar budayanya.
Waktu
pelaksanaan tradisi siraman pusaka Gong
Kyai Pradah setahun dua kali, berdasarkan perhitungan kalender Jawa yaitu setiap tanggal 12 Mulud dan tanggal 1 Sawal.
Penentuan tanggal pelaksanaan tersebut berdasarkan pesan dari Pangeran Prabu yang diwariskan secara turun-temurun kepada generasi penerusnya.
Nah, bagaimana? sudah mengenal sedikit tentang Mbah Pradah? jadi kalau ikut berpartisipasi dalam ritual tersebut setidaknya sudah tau kan asal usul ritualnya?
Semoga bisa dijadikan referensi destinasi wisata baru, apalagi yang ingin lebih mengenal budaya Blitar.
oleh : Devi Annisa