Ketika Kebanggaan Telah tercuri, Kemana Lagi Bangsa Akan Mencari Cermin Diri?


Tahun 2015 menjadi awal dari sebuah perubahan besar, terutama bagi masyarakat Indonesia. Tahun dimana pemerintah mengalami pergeseran kekuasaan tertinggi, beserta para pembantu pemerintahan dikalangan DPR, DPD, DPRD, dan para menteri yang semua serba “baru”. Hal ini menjadi masa pergantian yang terjadi secara menyeluruh bagi kelangsungan pemerintahan di Indonesia. Apalagi ketika di berbagai media massa telah diberitakan bahwa pada tahun 2015 ini akan diresmikan program Asean Economic Community atau lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), itu artinya masayarakat harus siap mengahadapi segala bentuk tantangan dimasa depan, terutama jika harus bersaing dengan kompetitor-kompetitor asing yang pasti memiliki kemampuan yang sudah tidak diragukan lagi.

Persaingan yang ketat inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia sedikit demi sedikit mulai mengadopsi kebijakan-kebijakan, trend mode, bahkan idealisme yang dimiliki oleh bangsa asing. Bukan hanya peningkatan taraf hidup seperti yang diharapkan, namun kebanggaan bangsa Indonesia yang selama ini menjadi "tanda pengenal" harus rela dikorbankan, diambil tanpa kita sadari oleh negara lain, dan dikemas sedemikian rupa agar menjadi budaya yang baru, sebagai daya tarik dari negara tersebut. Tidak ada rasa kehilangan ketika menara-menara ke-bhineka-an budaya telah dibangun susah payah oleh para pendahulu, sedangkan generasi penerusnya sama sekali acuh tak acuh terhadapnya. Jangankan melestarikan, mengenalnya secara lebih dalam saja pun, tidak ada niat untuk mengawali. 
MIRIS...!!  kata yang tepat kita ucapkan ketika melihat kondisi kemiskinan moral di negeri ini. orang lain sangat antusias mempelajari dan memperdalam suatu kebudayaan, namun si pemilik malah membiarkannya tak terpelihara. Suatu hari nanti, ketika cucu bertanya, "budaya apa yang menjadi kebanggaan bangsa kita, Eyang?", kita dapat menjawabnya. "Dulu, saat eyang muda, ada namanya budaya Indonesia. tapi sekarang sudah jadi milik negara lain."  Ketika kebanggaan telah tercuri, kemana lagi bangsa akan mencari cermin diri?

oleh : DEVI ANNISA'UFADILAH